PRESS RELEASE Seminar Rabuan Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM Kompetensi Promosi Kesehatan:Tantangan di Lapangan dan Peluang Mewujudkannya

 

PRESS RELEASE
Seminar Rabuan Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM
Kompetensi Promosi Kesehatan:Tantangan di Lapangan dan Peluang
Mewujudkannya

 

Pada Era Revolusi Industri 4.0 dan situasi pandemi Covid-19. promotor kesehatan sebagai garda depan pencegahan Covid-19 dituntut untuk lebih mengembangkan kompetensi sesuai standar profesi tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku yang termaktub dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/menkes/315/2020.

Tantangan era revolusi industri 4.0 adalah kemampuan berfikir kritis, komunikasi dan kolaborasi, problem solving, dan beradaptasi dengan teknologi. Kompetensi promotor kesehatan dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan di Indonesia diarahkan pada pendekatan promotif dan preventif ke hulu karena dengan pendekatan tersebut mampu melakukan efisiensi sumber daya yang sangat besar. Selain itu, pendekatan level keluarga sangat dibutuhkan sebagai pusat perubahan perilaku pencegahan Covid-19. Hal ini sampaikan oleh dr. Riskiyana Sukandi Putra, M.Kes, Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, dalam acara Seminar Rabu-an yang diselenggarakan oleh Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial (Perkesling) bekerjasama dengan Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK UGM dan PPPKMI DIY (Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta) pada Rabu, 30 September 2020 yang lalu.

Acara yang diselenggarakan selama dua jam ini dihadiri oleh 425 orang melalui Zoom dan Youtube live streaming, bertajuk: Kompetensi Promosi Kesehatan: Tantangan di Lapangan dan Peluang Mewujudkannya, dalam rangka mempersiapkan peningkatan kapasitas para promotor kesehatan. Acara dimoderatori oleh Fitrina Kusumaningrum, SKM., MPH, dosen Departemen Perkesling, diawali dengan pemutaran video seri pelatihan Departemen Perkesling yang berdurasi ± tiga menit. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua PPPKMI DIY, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, MSi, PhD. Prof. Yayi berpesan bahwa kewajiban bagi para promotor kesehatan dan dosen yang mengajar di promosi kesehatan untuk mengurus STR (Surat Tanda Registrasi). Selain itu, beliau juga menyampaikan sekilas tentang kegiatan seri pelatihan peningkatan kompetensi promotor kesehatan yang akan diselenggarakan bekerjasama antara Departemen Perkesling dengan PPPKMI DIY.

Selain menghadirkan dr. Riskiyana, acara ini juga menghadirkan Dr. Dra. Rita Damayanti, MSPH, Ketua PPPKMI Pusat, yang menyampaikan tentang standar profesi promotor kesehatan. Dr. Rita mengawali materi dengan mengenalkan PPPKMI sebagai organisasi profesi promotor kesehatan yang dapat berjalan dengan baik bila ada kekompakan antara profesi dengan user (Kementerian Kesehatan) dan Produsen (institusi pendidikan promkes). Materi dilanjutkan dengan pembahasan mengenai standar kompetensi serta karir tenaga promotor kesehatan di berbagai level, dan STR promkes online. Beliau juga menegaskan bahwa peran promotor kesehatan adalah sebagai designer program promosi kesehatan, jika mereka harus menjadi pelaksana seluruh kegiatan edukasi, maka program promkes tidak akan berjalan dengan baik. Pembahasaan mengenai STR juga banyak dikemukakan oleh Dr. Rita, banyak para pendaftar STR yang tidak lolos karena kurang memenuhi syarat, baik dari latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, atau kesalahan administratif lainnya.

Dalam peningkatan kompetensi promotor kesehatan, tentu tidak luput dari peran lembaga Perguruan Tinggi (PT) sebagai produsen dalam mencetak SDM yang professional. Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes yang merupakan sekretaris PPPKMI DIY dan sekaligus aktivis HPU (Health Promoting University) menjelaskan untuk dapat menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 dan Covid-19  maka kurikulum berbasis kompetensi/ outcome menjadi suatu kebutuhan. Yaitu lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, masyarakat dan yang dapat menghadapi tantangan sekarang ini. Dengan menganut prinsip “healthy for all, all for health”, UGM melaksanakan HPU, dimana salah satu hal yang sangat ditegaskan dalam kurikulum adalah terkait kesehatan. Seluruh civitas kampus dilibatkan dalam promosi kesehatan, dan PT berperan secara aktif dalam meningkatkan kesehatan dalam masyarakat.

Pada akhir sesi diskusi, acara ditutup dengan closing remaks dari para pembicara. Dr. Rita berpesan bahwa triangle antara profesi promkes, user/Kemenkes, dan produsen/Institusi Pendidikan harus selalu bergandeng tangan dan menjaga kekompakan, serta mahasiswa diharapkan selalu berfikir positif terhadap isu yang terjadi di lapangan dan jangan berfikir secara sektoral profesi. Sedangkan pesan dari Dr. Supriyati adalah diharapkan mahasiswa S2 IKM yang terdiri dari beberapa minat untuk tidak terkotak-kotak karena memiliki target outcome yang sama yaitu kompetensi dalam public health serta jangan lelah untuk terus belajar dan mengembangkan kapasitas diri.  (vivian-kontributor)