Embung Bendo di Kulon Progo Resmi Diserahkan kepada Masyarakat: Kolaborasi UI, UGM, dan BRIN untuk Ketahanan Air Pertanian

Kulon Progo, 26 Oktober 2025 –Pusat Pengurangan Risiko Bencana Universitas Indonesia (DRRC UI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial (HBES) Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, serta Program Studi Magister Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sekolah Vokasi UGM, secara resmi menyerahkan Embung Bendo kepada masyarakat Dusun Bendo, Kelurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo
Acara bertajuk “Pengesahan dan Serah Terima Embung Bendo kepada Masyarakat” ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan penelitian berjudul Mengintegrasikan Embung sebagai Penyimpanan Air Berbasis Alam dengan IoT untuk Konservasi Air Tawar di Lanskap Kering Kulonprogo yang didanai oleh hibah Freshwater Conservation Request for Proposals (RFP) dari The National Geographic Society. Penelitian ini berfokus pada konservasi air tawar yang dipimpin oleh masyarakat adat, dengan tujuan mendukung pengetahuan dan praktik lokal dalam melindungi sumber air melalui pembangunan dan pengelolaan embung berbasis teknologi modern.
Sejak awal pelaksanaan, tim peneliti telah melakukan berbagai tahapan penting di wilayah Kulon Progo. Kegiatan dimulai dengan survei lokasi dan pengumpulan data masyarakat untuk memahami kondisi sosial, lingkungan, serta tantangan dalam pengelolaan sumber daya air. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan forum group discussion (FGD) bersama warga dan tokoh lokal untuk merumuskan strategi pengelolaan air yang sesuai dengan konteks masyarakat dan kebutuhan pertanian setempat.
Sebagai hasil konkret dari proses tersebut, dilakukan pembangunan Embung Bendo yang dirancang sebagai sarana konservasi air sekaligus sistem pendukung ketahanan pertanian. Embung ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) dan irigasi tetes (drip irrigation) guna mengoptimalkan penggunaan air dan meningkatkan produktivitas lahan. Selain pembangunan fisik, kegiatan penanaman pohon di sekitar embung juga dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan daerah tangkapan air.
Dalam rangka memperkuat sinergi dengan pemangku kebijakan, tim peneliti juga mengadakan pertemuan resmi dengan Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., untuk menyampaikan hasil penelitian dan membangun dukungan kelembagaan bagi keberlanjutan program. Sebelum peresmian, pada 25 Oktober 2025 masyarakat Dusun Bendo mengikuti pelatihan dan transfer pengetahuan mengenai pengoperasian sistem IoT dan irigasi tetes, sebagai bekal untuk mengelola embung secara mandiri dan efisien.
Acara puncak peresmian dilaksanakan pada Minggu, 26 Oktober 2025, di area Embung Bendo, Dusun Bendo, Kulon Progo. Kegiatan dihadiri oleh Bupati Kulon Progo, jajaran pemerintah daerah, perangkat kalurahan, unsur Forkopimkal, akademisi dari UI dan UGM, serta masyarakat setempat. Prosesi berlangsung khidmat dengan doa bersama, sambutan perwakilan lembaga, penandatanganan prasasti oleh Kepala DRRC UI dan Bupati Kulon Progo, serta serah terima simbolis pengelolaan embung dari pihak akademik kepada masyarakat.
Embung Bendo menjadi bukti nyata sinergi antara lembaga akademik, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan air pertanian. Integrasi teknologi IoT dan drip irrigation diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengatasi tantangan kekeringan, serta memperkuat kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air.
Melalui pengesahan ini, Embung Bendo diharapkan menjadi model pengelolaan air yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus menjadi contoh keberhasilan kolaborasi lintas institusi dalam mendukung ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo.
Seluruh rangkaian kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan akses air berkelanjutan, Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui peningkatan ketahanan komunitas terhadap kekeringan, Tujuan 15 (Ekosistem Daratan) melalui kegiatan pelestarian daerah tangkapan air, serta Tujuan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
Penulis : Zilfani Fuadiyah Haq
Editor : Ari Prayogo Pribadi














Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!