Dr. Daniel, MSc Mengadakan Pelatihan Pengelolaan Air Minum Perdesaan yang Berkelanjutan di Sumba Barat Daya

Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial (HBES), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), berkolaborasi dengan Solar Chapter dan Wahana Visi Indonesia untuk memperkuat kapasitas masyarakat mengelola sumber daya air di tingkat desa. Dosen HBES, Dr. Daniel, M.Sc., berkontribusi sebagai bagian dari tim UGM dalam penyelenggaraan pelatihan Sustainable and Climate-Resilient Rural Water Supply Management di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 8–12 Juni 2026. Pelatihan ini mendapat dukungan pendanaan dari Failure Modes of Engineering (FeME), United Kingdom.

Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari 19 komite air desa dan bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola layanan air minum perdesaan yang berkelanjutan serta tangguh terhadap dampak perubahan iklim. Selama empat hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi mengenai penyusunan profil desa melalui platform mengalir.co, social mapping, layanan air minum perdesaan yang tangguh terhadap perubahan iklim, penguatan tata kelola komite air, peningkatan kualitas air minum dan manajemen risiko pada sistem perpipaan, serta penggunaan KoboToolbox untuk memperbarui data desa.

Selain penyampaian materi, pelatihan juga dilengkapi dengan berbagai sesi praktik. Peserta berlatih mempresentasikan kondisi layanan air di desa masing-masing berdasarkan data yang telah dikumpulkan, serta mengikuti simulasi role play untuk memahami dinamika pengambilan keputusan dalam tata kelola air di tingkat desa. Pendekatan partisipatif ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komite air dalam mengidentifikasi permasalahan, menyusun rekomendasi, dan mengambil keputusan yang lebih tepat sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Pelaksanaan pelatihan menghasilkan sejumlah pembelajaran penting terkait pengelolaan layanan air minum perdesaan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah terbatasnya akses komite air terhadap sumber pembiayaan alternatif dan dukungan teknis ketika sistem perpipaan mengalami kerusakan. Selain itu, investasi sektor air minum masih cenderung berfokus pada pembangunan infrastruktur baru dibandingkan revitalisasi aset yang telah ada, sementara penguatan kapasitas kelembagaan komite air belum mendapatkan perhatian yang memadai. Di sisi lain, sebagian besar komite air juga masih bergantung pada pemerintah maupun organisasi pendamping dalam proses pengambilan keputusan. Melalui keterlibatan dalam kegiatan ini, Daniel bersama tim turut mendukung upaya penguatan tata kelola layanan air minum berbasis masyarakat. Pelatihan ini menegaskan bahwa keberlanjutan layanan air minum perdesaan tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memerlukan kelembagaan lokal yang kuat, kepemimpinan masyarakat, serta kapasitas komunitas untuk mengelola sistem air secara mandiri. Upaya tersebut sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui penguatan pengelolaan layanan air minum yang aman dan berkelanjutan, SDG 13 (Climate Action) dengan mendorong ketahanan layanan air terhadap dampak perubahan iklim, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals).

Penulis : Zilfani Fuadiyah Haq

Editor : Ari Prayogo Pribadi

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *